logoblog

Cari

Tutup Iklan

Melirik Potensi Gula Aren Di Talapiti

Melirik Potensi Gula Aren Di Talapiti

Desa Talapiti terletak di ujung timur keccamatan Ambalawi. Desa yang merupakan pemekaran dari desa Tolowata ini memiliki potensi pertanain yang cukup

Wisata Belanja

KM. Sarangge
Oleh KM. Sarangge
10 Februari, 2014 11:01:12
Wisata Belanja
Komentar: 1
Dibaca: 26671 Kali

Desa Talapiti terletak di ujung timur keccamatan Ambalawi. Desa yang merupakan pemekaran dari desa Tolowata ini memiliki potensi pertanain yang cukup beragam, mulai dari padi dan palawija, kelapa, sayuran dan buah-buahan dan Aren. Desa ini cukup sejuk dan asri, hutannya masih terjaga dan mata air di sungai-sungainya mengalir jernih sepanjang tahun.

Ada satu potensi yang terpendam yang perlu mendapatkan perhatian dari desa ini yaitu pengelolaan hasil Aren atau dalam bahasa Bima disebut Nao. Enau atau aren (Arenga pinnata, suku Arecaceae) merupakan sejenis pohon  palma yang terpenting setelah kelapa (nyiur) karena merupakan tanaman serba guna. Palma yang besar dan tinggi, dapat mencapai 25 m. Berdiameter hingga 65 cm, batang pokoknya kukuh dan pada bagian atas diselimuti oleh serabut berwarna hitam yang dikenal sebagai ijuk, injuk, juk atau duk. Ijuk sebenarnya adalah bagian dari pelepah daun  yang menyelubungi batang.

Sudah sejak lama, masyarakat di dusun Tala desa Talapiti ini menggeluti usaha pengolahan Gula Aren. Mereka bergabung dalam kelompok pengelola Gula Aren yang pernah dibina oleh salah satu LSM dari Jerman yaitu GTZ. Menurut Arifin (60 thn) Gula aren diperoleh dengan menyadap tandan bunga jantan yang mulai mekar dan menghamburkan serbuk sari yang berwarna kuning. Tandan ini mula-mula dimemarkan dengan memukul-mukulnya selama beberapa hari, hingga keluar cairan dari dalamnya. Tandan kemudian dipotong dan di ujungnya digantungkan tahang bambu untuk menampung cairan yang menetes. Cairan manis yang diperoleh dinamai nira (alias legen atau saguer), berwarna jernih agak keruh. Nira ini tidak tahan lama, maka tahang yang telah berisi harus segera diambil untuk diolah niranya; biasanya sehari dua kali pengambilan, yakni pagi dan sore. Setelah dikumpulkan, nira segera dimasak hingga mengental dan menjadi gula cair. Selanjutnya, ke dalam gula cair ini dapat dibubuhkan bahan pengeras (misalnya campuran getah nangka dengan beberapa bahan lain) agar gula membeku dan dapat dicetak menjadi gula aren bongkahan (gula gandu). Atau, ke dalam gula cair ditambahkan bahan pemisah seperti minyak kelapa, agar terbentuk gula aren bubuk (kristal) yang disebut juga sebagai gula semut.

Disamping dapat diolah menjadi Gula Aren, Buah aren dapat diolah menjadi Kolang-kaling yang disukai sebagai campuran es, manisan atau dimasak sebagai kolak. Teristimewa sebagai hidangan berbuka puasa di bulan Ramadhan. Sebagaimana nipah dan rumbia, daun pohon enau juga biasa digunakan sebagai bahan atap rumah rakyat. Pucuk daunnya yang masih kuncup (janur) juga dipergunakan sebagai daun rokok, yang dikenal pasar sebagai daun kawung. Lembar-lembar daunnya di Jawa Barat biasa digunakan sebagai pembungkus barang dagangan, misalnya gula aren atau buah durian. Lembar-lembar daun ini pun kerap dipintal menjadi tali, sementara dari lidinya dihasilkan barang anyaman sederhana dan sapu lidi.

 

Baca Juga :


Para petani Aren di Talapiti sangat berharap adanya bantuan pemerintah serta pihak terkait untuk membantu usaha mereka terutama bantuan modal usaha dan upaya promosi serta pemasaran dari usaha mereka. Mengingat manfaat dan jenis olahan yang dihasillkan dari pohon aren sangat banyak, mereka sangat berharap ada pihak-pihak yang peduli untuk membantu pengembangan usaha mereka.

 



 
KM. Sarangge

KM. Sarangge

Pelopor Kampung Media di Kota Bima. Menyuguhkan Informasi Kampung Yang Tak Kampungan. Ketua Komunitas Dedy Kurniawan.

Artikel Terkait

1 KOMENTAR

  1. fairuz abadi

    fairuz abadi

    10 Februari, 2014

    Ambalawi bisa di prospek untuk pembentukan Kampung Media


 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan