logoblog

Cari

Tutup Iklan

DAYA PIKAT GULA MERAH DI UJUNG LOMBOK BARAT

DAYA PIKAT GULA MERAH DI UJUNG LOMBOK BARAT

Desa Pusuk Lestari, salah satu desa diujung Lombok Barat yang berbatasan dengan Kabupaten Lombok Utara.  Di sepanjang pinggiran jalan ini kita

Wisata Belanja

Nurjanah PATTIRO
Oleh Nurjanah PATTIRO
11 Juni, 2014 16:19:48
Wisata Belanja
Komentar: 0
Dibaca: 31594 Kali

Desa Pusuk Lestari, salah satu desa diujung Lombok Barat yang berbatasan dengan Kabupaten Lombok Utara.  Di sepanjang pinggiran jalan ini kita akan menemukan warung-warung yang menjajakan gula merah.  Hanya di desa ini kita menemukannya. Penjual yang satu dengan yang lain tidaklah jauh.  Jejeran gula merah yang tersimpan dalam bakul dan nare memberikan pemandangan khas tersendiri. Untuk melihat langsung proses pembuatannya, kita bisa mendatangai desa Kedondong Atas.  Jarak yang ditempuh untuk mencapai lokasi ini sejauh 2 km. Jalan yang dilaluipun tidak mulus,  terjal dan melewati rerimbunan pohon. Naik motor bukanlah pilihan yang tepat menuju ke sana. Dalam sehari para pekerja dapat menghasilkan ½ truk gula merah. Bagi para pembeli, bisa langsung memesan lewat telpon.

Proses pembuatan gula merah tidaklah mudah dan cepat, tutur Martini. Suaminya memiliki 3 are tanah yang ditanami pohon “Nao” (aren). Keahliannya yang langka sebagai tukang panjat pohon  nao dengan ketinggian hingga 10 meter tidak bisa lagi dilakoni. Tujuh tahun terakhir suami Martini menderita kencing batu. Untuk biaya pengobatan, 1 are tanah milik mertuanya rela dijual. Tanah itu dijual 6,5 juta dengan 10 pohon “Nao” masih berdiri kokoh sampai sekarang. Harga tersebut  masih  6 tahun yang lalu. Profesi tukang panjat sekarang telah dilakukan orang lain. Sistim pembayarannyapun dengan bagi hasil. Bila dalam 1 hari bisa mendapatkan 8 botol air nao, maka akan dibagi 2. Pengambilan airnya dari batang bunga dengan cara dipukul terlebih dahulu. Setelahnya diiris tipis bundar seperti kripik.  Kayu pemukul batang harus kayu khusus yaitu dari pohon pisang air. Setelah air nira dimasukkan dalam jerigen, terlebih dahulu harus dimasukkan kayu purut yang dicincang kecil agar air nira tidak berubah warna putih. Cara tersebut untuk mengantisipasi kalau air nao (tuak manis) tidak  habis terjual, sehingga masih bisa digunakan untuk membuat gula merah. Harga tuak manis dalm 1 botol besar Rp 6.000, sedangkan 1 botol tanggung Rp 3.000.

Pohon “nao” selain air, buahnya juga bisa dimanfaatkan sebagai kolang kaling. Harga 1 embernya 3 tahun yang lalu Rp 50.000, sekarang mencapai Rp 115.000. Proses pengambilan kolang kaling ini dari buah pohon nao dengan cara dibelah. Belahan itu jangan sampai isinya teriris, apalagi terpotong. Karena akan menghasilkan kolang kaling yang tidak bagus. Buah pohon “nao” ini setelah dibelah dimasukkan dalam air kemudian direbus. Dalam satu pohon “nao” bisa menghasilkan 1 ember kolang kaling. Sedangkan  gula merah  dibuat dari airnya yang dimasukkan dalam wajan besar. Waktu yang dibutuhkan untuk mematangkannya sekitar 6 jam. Biasanya perkerja memulai pembuatan gula merah di waktu sore hari. Pada pagi hari, mereka akan pergi mencari kayu bakar. Gula merah akan bagus aroma dan rasanya bila menggunakan kayu bakar, ujar Martini kembali. Setelah air nira tersebut sudah kelihatan mengental, maka sang “tester” akan mengambil sedikit masakan tersebut dengan sendok. Kalau dirasa masih belum bisa dibentuk menjadi bola, maka memerlukan waktu tambahan untuk mengadu-aduknya. Ada ritual khusus untuk memastikan air nao tersebut benar-benar matang. Setelah sang tester sudah  bisa dibentuk menyerupai bola, maka bentukan bola itu akan dilempar dalam wajan dan mengeluarkan bunyi yang khas. Pada saat ini lah gula dimasukkan dalam batok kelapa yang sebelumnya sudah direndam selama proses masak air nao.

Pilihan batok kelapa pun harus khusus dan memiliki lubang kecil diatasnya. Ini dimaksudkan kalau dalam proses mengeluarkan gula merah dari cetakan mengalami kesulitan, maka lubang  batok kelapa cukup ditiup saja. Sebelumnya lubang batok kelapa harus ditutup terlebih dahulu dengan daun pohon nao. Dalam sehari, Ibu Martini bisa memesan 50 biji gula merah. Harganyapun variatif, tergantung besar dan ukuran. Satu pasang gula ukuran besar dihargai Rp 35.000, ukuran sedang antara Rp 25.000 s.d Rp 23.000, sedangkan ukuran kecil Rp 15.000.  Untuk  biji kolang kaling setiap hari Ibu Martini memesan 1 ember. Biasanya proses jualnya dengan eceran. Satu kantong plastic ukuran ¼ gula dihargai Rp 3.000.

 

Baca Juga :


Bulan ramadhan tinggal menghitung hari. Biasanya penganan khas buka puasa menyajikan menu yang bahan dasarnya  dari gula merah, sebut saja KOLAK. Begitu juga dengan kolang kaling untuk bahan pelengkap es campur, es buah.  Menu minuman khas lainnya juga selalu menghadirkan bahan-bahan ini. Memburu gula merah untuk menyambut bulan suci menjadi pilihan yang tepat bagi keluarga yang gemar menyajikan menu buka puasa dengan cara disantap bersama keluarga ataupun dijual. Selamat berburu kemegahan rasa “GULA MERAH” di ujung Lombok Barat. (Nurjanah Pattiro) - 01



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan